Tafsir Surat Al IKHLASH

Written on 10:34 AM by Faiz Husaini

AL IKHLASH (MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH)
SURAT KE 112 : 4 ayat

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

{ قُلْ هُوَ الله أَحَدٌ }1{ الله الصمد }2{ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ } 3{ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ }4 .


Asbabun Nuzul

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum musyrikin meminta penjelasan tentang sifat-sifat Allah kepada Rasulullah saw. dengan berkata: "Jelaskan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu." Ayat ini (S. 112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai tuntunan untuk menjawab permintaan kaum musyrikin.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abi Aliyah yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab. Diriwayatkan pula oleh at-Thabarani dan Ibnu jarir yang bersumber dari Jabir bin Abdillah dan dijadikan dalil bahwa surat ini Makkiyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi menghadap kepada Nabi saw. dan diantaranya Ka'bubnul 'asyraf dan Hay bin Akhtab. Mereka berkata: "Hai Muhammad, lukiskan sifat-sifat Tuhan yang mengutusmu." Ayat ini (S.112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Sa'id bin Jubair. Dengan riwayat ini Sa'id bin Jubair menegaskan bahwa surat ini Madaniyyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Ahzab(Persekutuan antara kamu Quraisy, Yahudi Madinah, kaum Goththafan dari Thaif dan munafiqin Madinah dan beberapa suku sekeliling Makkah) berkata: "Lukiskan sifat Tuhanmu kepada kami." Maka datanglah Jibril menyampaikan surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat-sifat Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abil 'Aliyah yang bersumber dari Qatadah.)

Keterangan:

Menurut as-Suyuthi kata "al-Musyrikin" dalam hadits yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab ialah musyrikin dari kaum Ahzab, sehingga surat ini dapat dipastikan Madaniyyah sesuai dengan hadits Ibnu Abbas. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut di atas dan diperkuat pula oleh riwayat Abus Syaikh di dalam kitabul Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar menghadap kepada Nabi saw. dan berkata: "Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu." Rasulullah saw tidak menjawab, sehingga turunlah Jibril membawa wahyu surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat Allah.

Muqoddimah

Surat Al Ikhlas adalah termasuk surat makiyyah, jumlah ayatnya ada empat dan diturunkan setelah surat An Nas. Surat Al Ikhlas berisi tentang ketauhidan Allah atau keimanan pada Allah. Walau surat ini nampak pendek dan terdiri dari hanya empat ayat, tetapi yang terkandung di dalam surat ini adalah sepertiga dari isi Al Qur’an yaitu tentang keimanan pada Allah SWT yang Maha Pencipta. Inilah termasuk dari keistimewaan Al Qur’an yang bisa menyampaikan suatu pesan yang sangat padat isinya, tetapi dalam bentuk kalimat yang singkat.

Penjelasan

قُلْ هُوَ الله أَحَدٌ

1. Katakanlah”: Dia-lah Allah, yang Maha Esa.

Pada ayat pertama dalam surat Al Ikhlas Allah menyuruh kepada kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan tentang keesaan Allah. Namun, perintah ini juga berlaku bagi umatnya, karena salah satu karakteristik bahasa penyampaian Al Qur’an adalah satu mukhotob (lawan bicara) yang mewakili lainnya juga. Mukhotob pada ayat ini adalah Rasulullah, tetapi umat-Nya juga termasuk yang terkandung di dalamnya. Keimanan tentang Allah yang Maha Esa adalah unsur keimanan yang paling utama, yang merupakan rukun iman ke-1 dari rangkaian rukun iman yang berjumlah enam. Oleh karena itu keimanan kepada Allah harus tertanam pada manusia sejak dini. Hal ini yang membedakan perbedaan Allah dengan sesembahan agama-agama lain, dalam Kristen kita mengenal trinitas, dalam agama hindu ada banyak dewa dan tuhan, tetapi di dalam agama Islam hanya ada satu tuhan yaitu Allah SWT yang Maha Esa. Keesaan Allah adalah isyarat yang menunjukkan kekuasaan dan keuatan Allah yang tiada terbatas dan tidak membutuhkan unsur lain.

الله الصمد

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Pada ayat ini Allah menjelasakan bahwa segala yang ada di semua alam bergantung/membutuhkan Allah SWT. Namun, Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya. Ketika kita mentadabburi ayat ini maka kita akan merasakan korelasi antar ayat ini dengan sebelumnya, benang merahnya terdapat pada kekeasaan Allah, maksudnya Allah Maha Esa atas kekuasaan-Nya dan Allah Maha yang di butuhkan oleh semua makhluknya, jadi dua ayat ini menggambarkan keagungan Allah atas segalanya.

{ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ }

3. Dia tidak beranak dan tidak pula di peranakkan.

Adanya Allah adalah karena kehendaknya dan adanya Allah berbeda dengan proses adanya manusia yaitu beranak dan di peranakkan. Inilah yang menjadi salah satu titik pembeda antara Allah dan makhluk-Nya. Jika adanya hewan dan manusia karena proses kelahiran, tetapi adanya Allah tidak sama yang terjadi pada makhluk-Nya. Ayat ini menjelaskan kesucian Allah dari memiliki anak dan orang tua sebagaimana layaknya manusia. Ayat ini juga mengandung bantahan terhadap orang-orang yang syirik yang menganggap malikat adalah anak-anak perempuan Allah, sebagaimana di jelaskan dalam surat Ash Shofat ayat 150-152 dan anggapan mereka bahwa Al Masih adalah anak laki-laki Allah dan perkataan orang yahudi bahwa ‘uzair adalah anak Allah.

{ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ }

4. dan tidak ada seorangpun yang satara dengan Dia.

Keagungan Allah tidak tertandingi oleh siapapun. Sehingga, dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Allah lah yang paling Maha dari segalanya. Tiada seorangpun yang menyerupainya, hal ini menjadi jawaban atas kepercayaan yang batil dari para musyrik yang menjadikan para malaikat bersekutu pada Allah.

Istifâdah

1. Keyakinan atas keesaan Allah adalah hal yang sangat penting yang harus tertanam pada jiwa setiap manusia. Sehingga, karena pentingnya hal ini sampai Allah membuat satu surat khusus yang menjelaskan tentang keesaan Allah.
2. Dari kandungan yang terdapat di dalam surat ini, maka kita bisa lebih meyakini dengan wujud kekuasaan Allah yang tiada batas dab tiada seorangpun yang membadingi atau menyerupai.



Referensi

1. Tafsir al maraghi, Ustadz Ahmad Musthofa Al Maraghi, Dar al kutub al’ilmiyah, Baerut, Lubnan.
2. Tafsir Ibnu Katsir, Al Hafidz Ibnu katsir, Dar al hadits, kairo.
3. Terjemah Makna Al Qur’an

If you enjoyed this post Subscribe to our feed

No Comment

Post a Comment