Mengenal Imam al-Ghazali

Written on 3:59 PM by Faiz Husaini

Riwayat Hidup

Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Beliau berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

Sifat Pribadi

Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Beliau digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Beliau sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Beliau berjaya mengusai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Beliau juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengambara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulakan pengambaraan, beliau telah mempelajari karaya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama sepuluh tahun. Beliau telah mengunjungi tempat-tempat suci yang bertaburan di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Beliau terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi berliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Beliau sangat kuat beribadat, wara, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan. Kemegahan, dan kepuran-puraan dan mencari sesuatu untuk mendapat keredhaan dari Allah SWT. Beliau mempunyai keahlian dalam pelbagai bidang ilmu terutamanya fiqih, usul fiqih, dan siyasah syariah. Oleh karena itu, beliau disebut sebagai seorang faqih.

Pendidikan

Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Beliau telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.

Karya

Teologi

• Al-Munqidh min adh-Dhalal
• Al-Iqtishad fi al-I`tiqad
• Al-Risalah al-Qudsiyyah
• Kitab al-Arba'in fi Ushul ad-Din
• Mizan al-Amal
• Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah

Tasawuf

• Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), merupakan karyanya yang terkenal
• Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)
• Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)

Filsafat

• Maqasid al-Falasifah
• Tahafut al-Falasifah, buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).
Fiqih
• Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul

Logika

• Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge)
• al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
• Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)

Almarja’: http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Ghazali

Tanah

Written on 3:30 PM by Faiz Husaini

Tanah adalah asal usulku
dan asal usul semua manusia
apa yang kita makan adalah dari tanah
begitu juga apa yang kita minum
adalah air yang berada di tanah

Setinggi apapun kita terbang
pasti akan turun ke tanah lagi

pantaskah kita menjadi sombong?
ketika kita sadar..
bahwa kita adalah hanya sebuah tanah
yang sering diinjak-injak

oh tanah...
kami akhirnya akan kembali menjadi tanah.

Kairo, 22 Januari 09

Pembantaian

Written on 10:57 AM by Faiz Husaini

Sungguh telah terjadi pembantaian manusia
di malam, pagi dan siang hari
menjelang tahun baru Islam dan Masehi

Bunyi bom dari pesawat para zionis
dan ledakan peluru dari tank-tank mereka
telah menghantui dan mengejar-ngejar nyawa
jutaan warga di kota Gaza

dengan tanpa merasa berdosa sedikitpun
mereka telah membunuh ribuan orang yang tak bersalah
dan telah melukai ribuan orang-orang yang tak berdaya
serta dengan kebiadaban mereka
telah menghancurkan masjid, sekolahan
serta tempat tinggal warga Gaza

Alangkah kejinya moral para zionis
yang punya akal, tetapi digunakan untuk kejelekan
punya mata tetapi buta
punya telinga, tetapi tuli
dan punya mulut, tetapi bisu
dari semua kebenaran dan rasa manusiawi

selamat jalan para syuhada
semoga kau sudah menikmati taman-taman surga
yang akan hidup kekal di situ dengan ridla-Nya yang Agung

Kairo, 18 Januari 09

Darah

Written on 10:40 AM by Faiz Husaini

Sudah lebih dari dua minggu
mata manusia tercengang
melihat darah yang berceceran para syuhada
di kota Gaza

darah yang kita lihat bukanlah darah binatang
seperti di hari raya Idul Adha
tetapi itu adalah darang orang-orang yang tak berdosa
darah anak-anak kecil, para bayi dan orang tua yang tak berdaya

aku menjerit melihat lumuran darah
yang berada di sekitarku
seorang ibu menangis dan menjerit
melihat anaknya yang berlumuran darah
akibat bombardir dari biadab zionis

apakah darah manusia sudah tak berharga lagi?
sehingga tentara Israel dengan biadabnya
telah membunuh orang-orang yang tak berdosa.

Kairo, 17 Januari 09

Tangis dan Jeritan

Written on 9:58 AM by Faiz Husaini

Semua orang yang berakal menangis

karena sedih, pilu, tersentuh hatinya

untuk melihat penderitaan orang-orang di Gaza


Air mata terus mengalir

dari kelopak mata para yatim piatu, orang tua

serta anak-anak kecil dan para janda


Anak-anak kecil dipaksa menjadi yatim piatu seketika

karena orang tua mereka telah dibunuh penjajah

para wanita juga dipaksa menjadi janda seketika

karena suami mereka teleh dibunuh oleh zionis


Di seluruh penjuru dunia

aku melihat dan mendengar tangis dan jeritan manusia

atas krisis kemanusian ini.


Kairo, 18 Januari 09

Shalat Ritual dan Shalat Aktual

Written on 1:07 AM by Faiz Husaini

Shalat secara bahasa berarti doa. Sedangkan menurut istilah adalah segala ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbîratul ihram dan ditutup dengan salam. Shalat juga merupakan ibadah pokok yang bagi setiap muslim dan merupakan rukun Islam yang ke-2. Kewajiban shalat juga sudah ditegaskan oleh Al-Quran dan Hadits. Allah SWT berfirman:
وأقيمواالصّلاة وأتواالزكاة واركعوا مع الرّاكعين . البقرة، 43
Artinya: Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.

Istilah shalat ritual dalam artikel ini adalah shalat dikaji dari sisi ritual (ibadah), dan yang dimaksud dengan shalat aktual adalah mengkaji pengaruh shalat dalam segala aktifitas di luar shalat.

Shalat Ritual

Dalam ibadah shalat melibatkan tiga rangkaian yang harus ada dalam setiap menjalankan shalat, tiga rangkaian itu adalah hati, lisan dan gerakan anggota badan. Hati selain berfungsi untuk niat dalam tiap kali menjalankan shalat, hati juga sebagai alat untuk mengingat Allah selama melaksanakan ibadah ini. Lisan juga ikut andil besar dalam ibadah shalat, karena lisan yang bertugas mengucapakan rukun qoliy (takbiratul ihram, membaca Al Fatihah, membaca tasyahhud akhir, salam). Adapaun anggota tubuh lainnya juga ikut serta dalam ibadah shalat sebagai wujud ketundukan manusia pada Allah SWT.

Apabila ketiga rangkaian itu berjalan dengan seimbang, maka seseorang akan bisa merasakan kehusyu’an dan kenikmatan ketika menghadap Allah, karena shalat merupakan jalan yang menghubungkan secara langsung antara manusia dengan Allah ‘azza wajalla.

Shalat Aktual

Setelah kita semua diwajibakn untuk melaksanakan shalat fardlu lima kali dalam sehari semalam, maka kita juga dituntut untuk mengaktualisasikan shalat dalam aktifitas-aktifitas di luar ibadah shalat, maksudnya apa? Maksudnya adalah kita menjadikan shalat sebagai motivator dalam ibadah-ibadah lain dan menjadikan shalat sebagai benteng atas perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.

Jika kita mau mengambil banyak pelajaran (ad-dars) yang ada dalam shalat, niscaya kita akan bisa memetik banyak manfaat. Penulis akan mencoba mengangkat beberapa pelajaran yang ada dalam shalat, di antarnya sebagai berikut:

a. Shalat mengajarkan kebersihan dan kesucian, sebelum seorang muslim melaksanakan shalat, maka ia diwajibkan untuk suci dari hadast dan najis yang berada pada badan, pakaian, dan tempat shalat. Kita semua tahu terhadap pentingnya kebersihan dalam kehidupan, kebersihan pangkal kesehatan, itulah slogan yang sering dikampanyekan dalam masyarakat kita. Semua orang tak bisa menafikan urgensi kebersihan dalam setiap kondisi dan tempat. Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa kesucian adalah sebagian dari iman. Jika kita cermati lebih dalam, maka kita akan semakin tahu bahwa ajaran Islam ternyata sangat perhatian terhadap masalah kebersihan. Hal itu terbukti dari banyaknya ritual yang mengharuskan sesorang dalam keadaan suci dari segala najis.

b. Shalat mengajarkan kedisiplinan, sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa waktu untuk menjalankan shalat telah ditentukan oleh Allah SWT, QS (4:103), sehingga kita tidak boleh menjalankan shalat diluar waktu yangtelah ditentukan Allah SWT, kecuali karena ada adzur syar’i. Kedisiplinan adalah termasuk faktor yang sangat penting bagi setiap orang untuk menempuh keberhasilan. Kebiasaan terlambat dan suka menunda-nunda pekerjaan adalah wujud kegagalan kita dalam menghargai waktu. Waktu adalah termasuk ciptaan Allah sangat agung dan sering dipakai oleh Allah ‘azza wajalla untuk bersumpah, sebagimana yang terdapat dalam Al-Quran, wal fajr (demi waktu fajar), wal ‘ashr (demi masa), wallaili idza sajâ (demi malam apabila telah sunyi), dll. Tahukah kenapa Allah sering kali bersumpah dengan waktu? Allah sering bersumpah dengan ciptaan-Nya yang agung. Hal ini bertujuan menunjukkan kebesaran kekuasaan-Nya agar manusia mau menggunakan akalnya untuk lebih beriman pada Pencipta alam semesta. Selain itu, ciptaan Allah yang sering digunakan untuk bersumpah seperti matahari, bulan, bintang, serta waktu memiliki pesan sangat penting yang tersirat dalam sumpah itu yang harus harus dipikirkan oleh setiap manusia, sehingga dengan tafakkur terhadap ciptaan-ciptaan-Nya akan menjadikan manusia semakin beriman pada Allah dan semakin tahu segala manfaat dari segala nikmat yang telah diberikan kepada manusia.

c. Shalat menjadi benteng atas perbuatan keji dan mungkar, dalam hal ini Allah telah berfirman :
أتل ما أوحي أليك من الكتاب وأقم الصّلوة أنّ الصّلوة تنهي عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر والله يعلم ماتصنعون . العنكبوت، 45
Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat ini Allah telah menjelaskan bahwa shalat bisa mencegah dari perbutan-perbuatan keji dan mungkar. Dalam gramer bahasa arab kita mengenal adanya huruf taukid seperti inna, yang berfungsi untuk menjadi penguat/untuk menguatkan kebenaran dari suatu berita. Begitu juga yang terjadi dalam ayat ini, Allah mengawali firmannya dengan huruf taukid (inna) yang berarti sesungguhnya shalat bisa mencegah dari perbuaan keji dan mungkar. Ibnu Katsir telah menjelaskan ayat ini dalam tafsirnya; Allah telah memerintahkan kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman untuk membaca Al-Quran dan menyampaikannya kepada manusia. Masih menurut beliau, sesungguhnya shalat mengandung dua hal yaitu untuk meninggalkan perbutan yang keji dan mungkar, maksudnya sesungguhnya ketekunan dalam melaksanakan shalat bisa mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Ibnu ‘abbas ra telah berkata:
من لم تنهه صلا ته عن الفحشاء والمنكر، لم تزده من الله ألّا بعدا
Artinya: Barang siapa yang shalatnya tidak bisa mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar, maka Allah tidak akan menambah sesuatu apapun kepadanya kecuali semakin jauh (dari Allah SWT).

Sekarang yang menjadi pertanyan adalah kenapa sebagaian orang yang sudah sering menjalankan shalat masih juga sering melanggar perintah Allah/berbuat maksiat kepada-Nya?. Sebenarnya orang- orang yang demikian adalah golongan orang-orang yang belum bisa memaksimalkan peran shalat dalam semua ibadah diluar shalat. Memang hal ini bukanlah hal yang sangat mudah, tetapi membutuhkan proses dan latihan yang berkesinambungan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurang berperannya shalat dalam kesiapan kita untuk meninggalkan perbuatan maksiat, di antarnya adalah niat ikhlas yang belum tertanam di hati, sebagaian orang masih karena riya’, ujub, malu dan terpaksa dalam menjalankan shalat. Faktor lain adalah sering meninggalkan shalat fardlu dengan sengaja, hal ini merupakan perbuatan fasik (seorang yang beriman yang melanggar sebagian perintah Allah). Selain itu juga karena belum bisa meresapi kandungan shalat dengan sebenar-benarnya, sehingga dalam shalat pun sebagian dari mereka ada yang belum bisa khusyu’ atau bahkan tak pernah bisa khusyu’ sama sekali.

d. Shalat melatih menenangkan hati, ketenangan hati adalah kebutuhan pokok bagi setiap manusia, kita semua tidak bisa menafikan hal itu. Kita bisa membandingkan antara rasa ketakutan, kegelisahan yang ada dalam hati kita dengan rasa ketenangan yang menyelimuti hati kita juga, sungguh rasanya sangat berbeda. Allah ‘azza wajalla telah mengajarkan kepada manusia untuk melakukan shalat untuk menuju ketangan hati dengan mengingat/berdzikir pada-Nya. Manusia tak hanya cukup dipenuhi dengan kebutuhan jasmani seperti makan, minum, tidur, olah raga, dll. Namun, manusia juga tak bisa terlepas dari kebutuhan rohani (jiwa), untuk mencukupi kebutuhan rohani manusia harus selalu melakukan ritual/ibadah kepada Allah SWT . Salah satu ibadah yang sangat bisa mendekatkan diri kita kepada Allah adalah dengan melaksanaakn shalat.

Dari artikel singkat ini, maka penulis berusaha mengambil benang merah (korelasi) antara ibadah shalat dengan aktifitas-aktifitas di luar shalat. Ternyata keduanya sangat erat hubungannya, karena kita semua tidak hanya dituntut untuk melaksanakan kewajiban shalat, tetapi kita juga dituntut untuk membawa pengaruh positif shalat dalam segala aktifitas yang akan kita lakukan. Tentunya masih banyak pelajaran yang lain yang bisa diambil dari ritual shalat dan belum terkupas dalam artikel ini. Semoga Allah menjadikan kita dan keturunan kita termasuk orang-orang yang selalu mendirikan shalat, amin.


















Yahudi dalam Perspektif Al-Quran

Written on 12:33 PM by Faiz Husaini

Sejarah Singkat tentang Yahudi

Yahudi adalah agama samâwi (yang berdasarkan wahyu dari Allah), agama ini ada sekitar 2000 tahun sebelaum agama Islam turun. Kitab sucinya adalah At-Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa As. Ada beberapa pendapat mengenai asal kata yahudi, diantaranya yang paling mendekati kebenaran adalah bahwa kata yahûd diambil dari kata hâda yahûdu yang berarti raja’a yarji’u (kembali), makna ini dikuatkan dengan Al-Quran, Surat Al A’raf, ayat 156, Innâ hudnâ ilaîk, artinya sesunggguhnya aku (Musa) telah kembali kepadamu. Ayat ini menjelaskan bahwa kedatangan Nabi Musa As kepada kaumnya untuk memngembalikan mereka ke jalan yang benar. Ada beberapa nama lain untuk kaum Yahudi, diantaranya : Bani Israîl, al ‘ibriyyûn/al’ibrâniyyûn, Qoûm Musa (pengikut Musa As), Ahlul Kitab. Nama-nama inilah yang sering dipakai oleh Al-Quran untuk meyebut mereka, seperti dalam surat Al Baqarah, ayat 43, 67, 83, 120, surat Al Mâidah, ayat 51,surat Ali ‘imran, ayat 64, surat Al A’râf ayat 156.

Pada awalnya mereka pengikut Nabi Musa As, mereka menjadi pengikut yang baik, karena mengikuti ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa As. Namun, setelah Nabi Musa meninggal mereka banyak melakukan tahrîf/mengubah isi At-Taurat dan banyak melakukan pelanggaran pada ajaran-ajaran mereka.

Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia untuk menuju jalan yang benar. Keadaan manusia akan selamanya gelap ketika tidak diterangi dengan cahaya Al-Quran. Seperti halnya orang yang berada dalam suatu ruangan tanpa disinari oleh cahaya apapun, maka ia tidak akan melihat benda apapun yang berada di sekitarnya. Begitu juga kehidupan yang kita jalani akan bisa tersesat, jika tanpa mendapatkan hidayah Al-Quran. Kitab suci Al-Quran banyak menjelaskan karakteristik orang-orang Yahudi, seperti dalam aspek akidah, ubudiyah dan juga sosial.

Pelanggaran Yahudi dalam Akidah

Penulis akan mengawali perihal pelanggaran kaum Yahudi pada aspek akidah, mereka banyak menyelewengkan ajaran yang telah mereka dapatkan dari Nabi Musa as. Dalam Al-Quran, surat al-Taubah, 30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? . Dari ayat ini nampak jelas bahwa orang-orang Yahudi telah menghina Allah, karena telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Allah SWT tidak beranak dan juga tidak diberanakkan, (QS 112:3). Dalam tafsir Al Marâghi dijelaskan bahwa ‘Uzair adalah seorang pendeta (kâhin) Yahudi, ia hidup sekitar 457 SM. Menurut kepercayaan orang-orang Yahudi ‘Uzair adalah orang yang telah mengumpulkan kembali wahyu-wahyu Allah di kitab At Taurat yang sudah hilang sebelum masa Nabi Sulaiman As. Sehingga segala sumber yang yang dijadikan rujukan utama adalah yang berasal dari ‘Uzair, karena menurut kaum Yahudi waktu itu ‘Uzair adalah satu-satunya sosok yang paling diagungkan, maka sebagian mereka akhirnya menisbatkan ‘uzair sebagai anak Allah. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa penyelewengan dalam masalah akidah merupakan tindakan yang sangat sesat, karena sekitar 1/3 dari kandungan Al-Quran menjelaskan tentang akidah/kepercayaan atas semua rukun iman yang harus diyakini oleh setiap manusia.

Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi juga berburuk sangka dan mencela Allah (QS 5:64) Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila'nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. Dalam Ayat ini semakin jelas bahwa orang-orang Yahudi telah menghina Allah, mereka mengatakan bahwa tangan (kekuasaan) Allah telah terbelenggu (dari kebaikan), mereka menganggap Allah bakhil. Sungguh sangat keji dan sombong sifat mereka yang berani menghina Allah. Padahal tangan mereka yang sebenarnya terbelenggu dari kebaikan dan lebih menyukai kebakhilan. Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada mereka, tetapi justru selalu kufur nikmat. Orang-orang yang demikian yang telah diancam oleh Allah dengan siksaan yang sangat pedih.

Al-Quran sering menggunakan sebutan Ahlul Kitab untuk kaum Yahudi, dan yang dimaksud Ahlul Kitab juga termasuk orang-orang Nasrani, jadi Ahlul Kitab adalah sebutan untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di antara beberapa surat dalam Al-Quran yang banyak menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kaum Yahudi adalah QS. Al Baqarah, Ali ‘imran, Al Maidah.

Keburukan Yahudi dalam Aspek Sosial

Ada satu topik yang diangkat dalam QS 3:75, Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. Allah telah menjelaskan sikap mereka yang sulit untuk bisa dipercaya, sebagaimana sifat orang munafik yang suka berbohong, khianat, dan ingkar janji. Selain itu mereka juga suka meremehkan kaum lain, seperti sikap Yahudi kepada bagsa Arab, pendapat ini diambil dari penafsiran yang menjelaskan maksud kata alummiyyîn adalah orang-orang arab. Dari Ayat ini kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berarti yaitu untuk lebih berhati-hati dalam bermuamalah dengan mereka baik yang bersifat politik atau hubungan sosiala lainnya, agar kita bisa selamat dari tipu daya mereka.

Sudah menjadi sifat manusia untuk berbuat semena-mena, karena merasa paling hebat dan kuat, serta sombong. Begitu juga yang telah dilakukan kaum Yahudi, mereka suka membuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan perang dan sejenisnya. Mari kita kembali bertadabbur pada akhir ayat (QS 5:64), Allah menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi akan selalu berbuat kerusakan di muka bumi, dalam ayat ini digunakan fi’il mudlari’ pada kata yas’auna, dalam ilmu balaghah penggunaan kalimat yang berbentuk mudlari’ memiliki arti istimrâr (terus menerus/berkelanjutan). Orang-orang Yahudi termasuk golongan yang suka membangkang perintah Allah. Apalagi terhadap ajakan kebaikan dari sesama manusia, pasti mereka lebih berani untuk menolak. Sekarang kita bisa melihat dengan mata kepala kita sendiri atas sikap mereka yang sudah tidak manusiawi. Dengan berdalih membela diri, mereka tanpa merasa berdosa telah membunuh lebih dari 800 orang dan telah melukai lebih dari 3000 warga sipil yang tak berdosa. Resolusi PBB untuk gencatan senjata telah mereka abaikan, demonstrasi dari jutaaan manusia di seluruh penjuru dunia juga tidak didengarkan. Sungguh hati dan mata serta telinga mereka telah terkunci oleh kekufuran, sehingga mereka tak pernah menerima kebenaran walau mereka sebenarnya sering tahu bahwa mereka bersalah. Semakin jelas sifat munafik mereka, yaitu mereka suka melakukan kerusakan dimuka bumi, tetapi mereka tidak mengakui kelakuan mereka dan selalu berdalih bahwa yang dilakukannya adalah kebaikan.

Sikap Keras Yahudi pada Umat Islam

Ketika kita kembali mengingat sejarah orang-orang Yahudi yang suka membantah ajakan Nabi Muhammad Saw menuju jalan yang benar, maka kita bisa melihat betapa angkuh dan keras hati mereka. Kebencian mereka terhadap Islam tak akan pernah surut sampai kapan pun. Mereka tak akan pernah rela kepada umat Islam, sampai umat Islam mau mengikuti hawa nafsu mereka. Memang musuh Islam banyak (tak hanya Yahudi), bahkan orang yang beragama Islam yang munafik kepada agama Islam bisa menjadi musuh Islam juga. Namun, rasa permusuhan yang ada dalam hati para Yahudi lebih keras dan sadis dibanding dengan musuh-musuh yang lain.

Dalam QS 5:82, Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. Dalam Tafsir Al Alûsi dijelaskan bahwa orang-orang Yahudi disifati oleh Allah sebagai asyaddannâs, karena kufur mereka yang sudah sangat berlebihan, serta kebiasaan mereka berbohong dan mengikuti hawa nafsu. Bahkan dikatakan juga bahwa dalam pandangan mereka wajib memerangi orang-orang yang kontroversi dengan keinginan mereka. Selain orang Yahudi juga orang-orang musyrik yang menjadi musuh yang sangat keras bagi umat Islam. Namun, dalam ayat ini orang-orang Yahudi lebih didahulukan (disebut terlebih dahulu) dari pada orang-orang musyrik, kenapa? Masih menurut Al Imam Al Alûsi dalam tafsirnya, orang-orang Yahudi disebut terlebih dahulu karena kebiasaan mereka yang lebih suka memusuhi dulu/mencari masalah, dalam pendapat lain dikatakan karena sifat kejelekannya lebih banyak dari pada yang lain.

Kita semua sekarang juga bisa melihat fakta kebencian mereka terhadap orang-orang Islam yang ada di Gaza, walaupun perang yang sedang berlangsung bukan atas nama agama, tetapi secara otomatis umat Islam sedunia merasa ikut diperangi, karena melihat saudar-saudara mereka seagama telah dibantai di Gaza. Bertahun-tahun Yahudi Israel menjajah, mengusir dan menyiksa rakyat Palestina. Berbagai macam kecaman telah mereka dapatkan dari mayoritas manusia di seluruh penjuru dunia, Ratusan ribu orang berdemonstrasi di negara-negara Eropa, puluhan ribu orang berdemonstrasi di negara-negara Arab dan Asia Tenggara untuk mengecam agresi militer Israel yang sangat didukung AS, tetapi mereka justru semakin gila meluncurkan serangan-serangan ke pemukiman warga Gaza. Yahudi Israel benar-benar telah melanggar HAM, mereka juga telah melakukan kejahatan perang dengan menghancurkan tempat-tempat ibadah, sekolahan, kantor-kantor media massa, membunuh anak-anak serta membantai warga sipil. Israel dan Amerika menuduh Hamas adalah kelompok teroris yang harus dihancurkan, padahal Israel dan AS yang sebenarnya lebih pantas disebut Terosis. Banyak fakta-fakta yang kuat yang bisa dijadikan penguat atas hal ini, seperti pembunuhan ratusan ribu orang di Irak atas tuduhan senjata pemusnah masal/nuklir yang akhirnya tak bisa dibuktikan oleh George W. Bush, begitu juga pembantaian oleh tentara-tentara Israel kepada warga sipil di Gaza, Palestina. Sungguh sikap mereka sangat keji dan tidak manusiawi.

Kita masih belum tahu sampai kapan mereka akan menghentikan kebiadaban mereka, apakah menunggu siksaan Allah yang akan segera datang untuk balasan bagi orang-orang yang dzalim seperti mereka? semoga saja mereka cepat mendapatkan siksaan dari Allah. Doa dan dukungan kami akan selalu menemani saudara-saudara kita yang berada di Palestina, semoga mereka mendapatkan pertolongan yang mulia dan kemenangan yang agung dari Allah ‘azza wajallâ, âmîn. Wallahu a’lam.

من ابن عطيّة؟

Written on 6:53 PM by Faiz Husaini

هو أبو محمّد عبد الحق بن غالب بن عطيّة الأ ندلسي المغربي الغر ناطي الحافظ القاضي نشأ في بيت علم و فضل فأ بوه أ بو بكر غالب بن عطيّة أمام حافظ و عالم جليل رحل في طلب العلم وتفقّه علي العلماء وجده عطيّة أنسل كثيرا لهم قدر وفضل، و كا ن أبو محمّد بن عطيّة غاية في الدّهاء والذكاء وحسن الفهم وجلال التّصرّف، وهو مفسّر فقيه أندلسي من أهل غر ناطة، عارف بالأحكام والحديث له شعر وليّ قضاء المريّة و كان يكثر الغزوات في جيوش الملثمين وله تفسير المحرّر الوجيز في الكتاب العزيز.

وهو نحوي لغوي أديب شاعر وصفه صاحب قلائد العقيان بالبراعة في الأدب والنّظم والنّثر و ذكر شيأ من شعره. وتفسيره من أفضل ما كتب في فنّ التفسير وقد ذاع صيته وشاع وملأ البقاع والأصقاع، وقد لخصه من كتب التّفسير كما يقول ابن خلدون في المقدّمة وتحرّي ما هو أقرب ألي الصحّة منها ووضع ذالك في كتاب متداول بين اهل المغرب والأندلس حسن المنحي. وأنتشر كتابه في كلّ مكان قطار وكان له في نفوس النّاس قيمة علميّة ومكانة مرموقة.

مرجع : الأ مام محمّد الغزالي، جهوده في التّفسير و علوم القرءان، د. رمضان خميس الغريب، دار الحرم للتّراث